Showing posts with label ABOUT BOOKS. Show all posts
Showing posts with label ABOUT BOOKS. Show all posts

Tuesday, December 1, 2020

Buku adalah Sahabat — Bidang RPK PC IMM Bone

Suatu kebahagiaan ketika manusia bisa berteman baik dengan buku. Melalui buku, kita bisa mengkaji sesuatu dalam deretan huruf-huruf yang mengantarkan kita pada ilmu pengetahuan. Melalui buku pula, kita bisa mengembangkan kekuatan otak dengan hikmah yang ada di dalamnya. 

Al-Jahizh menasehatkan untuk senantiasa membaca dan mengkaji agar Anda bisa mengusir kesedihan. Katanya, "buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah tetangga yang tidak menyakitimu. Dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang Anda miliki. Dia tak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan."

Buku merupakan teman yang paling setia. 

Teman yang jika kita pandang lama, banyak memberi manfaat, dia juga bisa menajamkan kemampuan intelektual, bukan hanya itu, memperbanyak membaca buku akan menghilangkan kekeluan di lidah kita dan memperindah ujung jemari ketika menulis. M

Karena di dalam buku terdapat berbagai macam kosakata yang mungkin terdengar asing di telinga kita. Melalui kosakata yang kita dapatkan, kita mengadopsinya dalam berbicara maupun dalam hal menulis. 

Buku adalah teman yang akan selalu ada untuk kita, di siang hari ketika jenuh, dia hadir bersama kita, bahkan di malam hari, dan bahkan di setiap waktu kapan pun kita membutuhkannya. Meskipun kita mencoba meninggalkannya, dia akan selalu taat berada di sekitar kita. Dalam kondisi sendiri pun, dia akan menjadi hal yang paling bermanfaat dan paling bisa diandalkan. 

Selain itu, dia akan mengurangi peluang untuk kita melakukan dosa. Kenapa? Karena kita sibuk bercengkrama dengan dia. Mendengar kisah-kisah dari dirinya, sehingga kita melupakan hal-hal yang berbau duniawi yang bisa menjerumuskan kita pada kubangan dosa. 

Dengan membaca buku, sahabat kita, akan membentuk kepribadian kita. Sama seperti ketika kita berteman dengan manusia. Jika orang yang kita ajak berteman adalah mereka yang senantiasa mengajak kita kepada keburukan, maka walhasil kita pun akan menjadi seperti itu. Begitupun sebaliknya. Namun, perlu kita catat bahwa buku tidak akan menyesatkan kawannya, tapi kitalah yang salah menafsirkan kata-kata yang dia keluarkan, sehingga sifat arogansi dan lain semacamnya muncul seketika.


—Selamat Berkawan dengan Buku, Salam Literasi.

#FastabiqulKhaerat


#QuoteOfTheDay

#BidangRisetdanPengembanganKeilmuan

#PCIMMBone

 

Monday, September 28, 2020

Paradigma Dalam Pembentukan Peradaban


"Siapa yang aktif mengambil peran dalam bidang keilmuan dan dalam rekayasa budaya dan peradaban pada era baru ini, maka ia akan keluar sebagai pemenang dalam konflik atau dialog antar peradaban yang kini sedang berlangsung."

Menurut al-Qardawi, peradaban yang sekarang ada di depan kita ini adalah dominasi peradaban Barat yang berakar dari pemikiran Yunani dan Romawi. Kedua pemikiran Barat ini memiliki ciri-ciri, sebagai berikut:

a. Kekacauan pandangan menyangkut soal ketuhanan;

b. Berbasis materialisme dengan mengingkari unsur-unsur rohani dan hal-hal yang tidak dapat dijangkau indra;

c. Berbasis sekularisme dengan memisahkan antara agama dan negara;

d. Berbasis benturan (Taqum ala al Shira). Pemikiran barat itu tidak memiliki basis kedamaian (al-salam), ketenangan (al-Ththuma'ninah) dan cinta kasih (al-hubb). Pemikiran Barat mendorong benturan antar manusia dengan jiwanya, antarmanusia dengan tabiatnya, antara manusia dengan manusia, dan paling parah antara manusia dengan Tuhannya;

e. Pemikiran Barat berdasar kesombongan atau keangkuhan (al-Iisti'lq 'Ala al-Akharin). Dari kesombongan itu, maka muncul konsep superioritas etnis atau ras yang satu atas yang lain. Pemikiran ini lebih jauh memiliki pra-anggapan yang keliru bahwa suatu kelompok itu diciptakan sebagai pemimpin atau hakim bagi kelompok yang lain. Padahal secara fitrah, manusia itu adalah sederajat dan egaliter.

Dalam pandangan al-Qardhawi, umat manusia saat ini dan masa depan membutuhkan peradaban baru, yakni peradaban yang dibangun atas dasar pemikiran yang bukan pemikiran barat. Peradaban yang didasari atas iman kepada Allah dan seluruh risalah-Nya, iman kepada Hari Akhir, berdiri di atas nilai-nilai yang luhur yang tidak mungkin manusia menjadi manusia tanpanya, dan tidak berarti kehidupan itu tanpanya. Peradaban itu, kata al-Qardhawi, tidak lain adalah peradaban Islam (hadharah al-Islamiyyah).

Berlainan dengan peradaban Barat, peradaban Islam memiliki ciri-ciri utama, yaitu keseimbangan (al-tawazun), dan saling menyempurnakan (al-takamul).

Keseimbangan itu, menurut al-Qardhawi meliputi: ketuhanan dan kemanusiaan, wahyu dan akal, rohani dan materi, akhirat dan duniawi, individu dan kolektif, ide (matsaliyyah) dan realitas (waqi'iyyah), antara konservatisme dan futurisme, tanggung jawab (mas'uliyyah) dan liberalisasi (hurriyyah), antara ortodoksi (al-Ittiba') dan kreativitasi (al-Ibda), antara hak dan kewajiban, antara statis (al-tsabat) dan dinamis (taghayyur), dan antara memandang mukia (al-i'tizaz) dan toleransi (al-tasamuh).

Ciri al-Takaamul, menurut al-Qardhawi, adalah saling menyempurnakan antara satu ajaran dengan ajaran yang lain, seperti antara iman dan ilmu (takamul al 'ilm wa al iman). Iman tidak cukup tanpa ilmu, sebagaimana ilmu tidak berguna tanpa iman.

Menurut al-Qardhawi, yang menjadi keistimewaan Islam atas agama-agama lainnya adalah penghargaannya atas akal, ajakan Islam untuk merenung dan berefleksi (al-nazhr wa al-tafkir), motivasinya terhadap ilmu dan belajar, pemuliaan Islam kepada ilmuwan san cendikiawan, kebencian Islam terhadap jumud dan kebodohan, pujian Islam kepada budaya tulis-menulis (al-kitabah wa al-qalam) seperti ditunjukkan wahyu oertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Untuk membangun dan mewujudkan masa depan peradaban Islam seperti diharapkan, maka umat Islam, khususnya para ilmuwan dan akademisi, perlu memiliki mental keilmuan (scientific mentality) yang terbuka (open minded) dan etos kerja ilmiah yang tinggi seperti yang dahulu ditunjukkan oleh generasi terbaik Islam pada periode klasik (the golden age).

Disamping itu, hal lain yang juga penting menjadi perhatian umat Islam, adalah memberikan informasi dan presentasi yang benar dan objektif mengenai Islam.

Selama ini, terjadi distorsi, prasangka, dan bias-bias ideologis tentang Islam dan studi-studi Islam di dunia Barat. Dan dengan memanfaatkan minat dan antusiasme masyarakat Barat terhadap Islam pada era baru sekarang, maka kaum muslim dituntut untuk memanfaatkan peluang dan kesempatan ini sebagai "momentum" untuk memperkenalkan Islam dan budaya Islam secara benar kepada masyarakat dunia.

Inilah titik awal sinar kebangkitan peradaban Islam pada era baru pasca-modernisme sekarang ini.


Source: The True Da'wa-Menggagas Paradigma Baru Dakwah Era Milenia By Dr. A. Ilyas Ismail, M.A.